Sebelum Islam datang, bangsa Arab telah
menganut berbagai macam agama, adat istiadat, akhlak dan peraturan-peraturan
hidup. Ketika agama Islam datang, agama baru ini pun membawa pembaruan di
bidang akhlak, hukum, dan peraturan-peraturan tentang hidup. Dengan demikian,
bertemulah agama Islam dengan agama-agama jahiliah atau peraturan-peraturan
Islam dengan peraturan-peraturan bangsa Arab sebelum Islam. Kemudian, kedua
paham dan kepercayaan itu saling berbenturan dan bertarung dalam waktu yang
lama.
Faktor alam merupakan satu hal yang
dapat mempengaruhi kehidupan beragama pada suatu bangsa. Hal itu dapat
dibuktikan oleh penyelidik-penyelidik ilmiah yang menunjukkan bahwa Jazirah
Arab dahulunya subur dan rnakmur. Karena faktor alam itu pula boleh jadi rasa
keagamaan telah timbul pada bangsa Arab semenjak lama. Semangat keagamaan yang
amat kuat pada bangsa Arab itulah yang menjadi dorongan mereka untuk melawan
dan memerangi agama Islam di saat Islam datang. Mereka memerangi agama Islam
karena mereka amat kuat berpegang dengan agama mereka yang lama yaitu
kepercayaan yang telah mendarah daging pada jiwa mereka. Andaikata mereka acuh
tak acuh dengan agama, tentu mereka membiarkan agama Islam berkembang, tetapi
kenyataannya tidak demikian. Agama Islam mereka perangi mati-matian sampai
mereka kalah.
Sampai saat ini pun bangsa Arab, baik
dia seorang ulama atau tidak, terhadap agamanya mereka sangat bersemangat.
Agama itu disiarkan serta dibela dengan sekuat tenaganya. Semangat beragama
mereka umumnya bersifat kulitnya saja. Adapun ibadah dan praktik-praktik
keagamaan jeering ditinggalkan oleh Arab Badui. Watak mereka yang amat
mencintai hidup bebas dari keterikatan menjadi sebab mereka Kingin bebas dari
aturan agama. Mereka sudah lama merasa bosan dan kesal terhadap agamanya karena
dianggap sebagai pengikat kemerdekaannya sehingga selalu menyelewengkan agama
mereka sendiri. Ada di antara mereka yang menyembah pohon-pohon kayu. Ada yang
menyembah bintang-bintang, batu-batuan, binatang-binatang, bahkan menyembah
raja-raja. Cara ini mereka lakukan karena mereka merasa sukar mempercayai Tuhan
yang abstrak, sehingga akhirnya mereka menjadikan sesuatu benda yang
dianggapnya sebagai Tuhan bayangan.
Mengenai kepercayaan keaga-maan, bangsa
Arab merupakan salah satu dari bangsa-bangsa yang telah mendapat petunjuk.
Mereka dahulu telah mengikuti agama Nabi Ibrahim. Karena terputus dengan nabi
sebagai juru penerang, meraka lantas kembali lagi menyembah berhala.
Berhala-berhala mereka terbuat dari batu dan ditegakkan di Kakbah. Dengan
demikian agama Nabi Ibrahim bercampur aduk dengan kepercayaan keberhalaan.
Kemudian keyakinan terhadap Nabi Ibrahim itu telah benar-benar kalah dengan
kepercayaan keberhalaan.
Ibnu Kalbi menyatakan bahwa yang
menye-babkan bangsa Arab menyembah batu atau berhala adalah karena siapa saja
yang meninggalkan kota Mekah selalu membawa sebuah batu. Diambilnya dari
batu-batu yang ada di tanah haram Kakbah. Jika telah berbuat demikian, mereka
telah merasa dirinya terhormat dan cinta terhadap kota Mekah. Selanjutnya, di
mana-mana mereka berhenti atau menetap, diletakkannya batu itu, dan mereka
tawaf (mengelilingi) batu itu, seolah-olah mereka telah mengelilingi Kakbah.
Sesungguhnya mereka masih tetap memuliakan Kakbah dan kota Mekah, serta masih
mengerjakan haji dan umrah, tetapi mereka tetap saja menyembah apa yang mereka
sukai. Berhala-berhala yang ada di negeri mereka dahulunya adalah batu yang
dibawa dari Kakbah ; (Mekah), yang kemudian mereka muliakan. Mereka juga mendirikan
rumah-rumah untuk smenempatkan batu berhalanya, sementara itu Kakbah masih
tetap mempunyai kedudukan lyang tinggi dan mulia. Di antara berhala-berhala itu
ada yang mereka pindahkan ke Kakbah, fyang akhirnya Kakbah dipenuhi dengan
berhala-berhala. Mereka tidak lupa akan kedudukan I Kakbah yang mulia sehingga
mereka tidak mau meletakkan batu-batu berhala itu di tempat yang lain, kecuali
dekat dengan Kakbah. Mereka juga tidak mau naik haji, kecuali hanya ke Mekah.
Nama-nama berhala yang mereka sembah antara
lain Hubal yakni berhala yang terbuat dari batu akik berwarna merah dan
berbentuk manusia. Hubal, dewa mereka yang terbesar I diletakkan di Kakbah,
kemudian Al Lata, berhala yang paling tua, berhala Al Uzza, serta Manah. Mereka
mengakui berhala tersebut sebagai Tuhan mereka dan memujanya karena dianggapnya
hebat. Mereka menyembah berhala-berhala itu sebagai perantara kepada Tuhan.
Jadi pad hakikatnya, bukanlah berhala-berhala itu yang mereka sembah, tetapi
sesuatu yang hebat di balik berhala-berhala itu. Untuk mendekatkan diri kepada
dewa atau Tuhan-Tuhan itu, merek rela berkorban dengan menyajikan binatang
ternak. Bahkan pernah pada suatu ketika mereka mempersembahkan manusia sebagai
korban kepada dewa-dewa dan Tuhan mereka. Kepadal berhala-berhala itu, mereka
mengadukan nasibnya, persoalan, atau problem hidupnya serta meminta pendapat
atau memohon restunya jika akan mengerjakan sesuatu yang penting.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar