Jika membahas mengenai bagaimana kondisi umat Islam Indonesia saat ini,
khususnya dalam hal moralitas, maka akan ditemukan satu kenyataan yang
rasanya tidak cukup memuaskan. Saat ini, umat Islam di Indonesia sudah
terlalu terlena dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang semakin banyaknya dan
pada akhirnya menjauhkan mereka dari nilai-nilai keislaman yang
sebenarnya. Di lain pihak, golongan umat yang lebih sedikit mengenyam
pendidikan justru menjadi fanatis terhadap Islam dan kemudian melakukan
tindakan-tindakan yang menjurus pada radikalisme. Dari kondisi ini,
dapat terlihat bahwa umat Islam Indonesia masih terjebak dalam suatu
ketersesatan karena tidak sanggup menunjukkan nilai-nilai keislamannya
meskipun sudah mengakui Islam sebagai agamanya. Bisa dilihat dari
bagaimana maraknya kasus-kasus besar yang telah menjangkiti para
pemimpin bangsa Indonesia saat ini. Mulai dari kasus korupsi yang sangat
marak, kerusuhan-kerusuhan atas dalih agama, dan lain-lain. Semua ini
bisa terjadi karena masih kurangnya pemahaman akan moralitas yang benar
tentang agama Islam oleh sebagian besar umat Islam Indonesia. Dengan
kata lain, penanaman benih-benih keislaman umat melalui pendidikan
tidaklah cukup berhasil dalam prakteknya.
Penanaman
benih-benih Islam dalam umat tidak harus dilakukan dalam
sekolah-sekolah yang berbasiskan Islam saja, namun juga di
sekolah-sekolah umum. Yang menjadi permasalahannya ialah kurangnya
kesadaran untuk menjalani kehidupan bernegara yang sekaligus beragama.
Konsep negara (nation) pada dasarnya adalah konsep yang dibawa dari
Barat, yang sebelumnya masih sangat asing bagi orang-orang Indonesia.
Karena itu, konsep negara ini harus bisa diselaraskan dengan Islam
sebagai tempat bernaung umat sebelum konsep negara itu dapat diterima
oleh setiap muslim Indonesia. Bisa dilihat dari contoh yang terjadi pada
kasus Ahmadiyah beberapa waktu lalu, dimana terjadi penyerangan dan
pengrusakan terhadap penganut Ahmadiyah dan juga fasilitas-fasilitas
umum lainnya. Pada dasarnya, masalah ini bisa diselesaikan oleh negara
melalui jalan hukum, namun masyarakat justru mengambil tindakan terlebih
dahulu untuk membereskan masalah ini dengan jalan kekerasan. Meskipun
begitu, lambatnya pemerintah untuk mengatasi masalah ini juga menjadi
bukti bagaimana ketidaksigapan mereka dalam mengatasi masalah penistaan
agama.
Berbagai macam permasalahan negara dan umat tersebut
menjadi sesuatu yang sangat disayangkan dan disesalkan, karena dapat
dilihat bagaimana moral umat saat ini sudah demikian jatuh. Dan kalaupun
menunjukkan kemajuan, sayangnya itu hanya berlaku untuk segolongan umat
saja, apalagi dalam dunia politik. Padahal, para pemimpin dan penggerak
umat pada masa-masa menuju kemerdekaan sanggup menggerakkan dan
membangkitkan umat Islam Indonesia untuk satu tujuan yang mulia
(kemerdekaan Indonesia).
Umat Islam Indonesia sebenarnya memiliki
potensi untuk maju kedepannya. Selain karena jumlah umat yang besar,
umat Islam di Indonesia relatif tidak terlalu mengalami
pergolakan-pergolakan yang saat ini tengah melanda Timur Tengah. Selain
itu, SDA yang dimiliki sangat banyak dan seharusnya umat bisa menguasai
itu dibandingkan orang-orang Barat yang notabene-nya adalah orang asing.
Umat Islam sejauh ini sudah memiliki peranan yang besar dalam kehidupan
bernegara di Indonesia, namun masih kurang mampu untuk menselaraskannya
dengan kehidupan beragama. Karena itu, peningkatan moralitas umat Islam
Indonesia harus digencarkan kembali melalui pembaharuan-pembaharuan
yang sifatnya tidak bertentangan dengan dasar-dasar Islam dan di lain
pihak juga dapat membentuk karakter Bangsa Indonesia yang mayoritas
adalah muslim ini.
Apa itu islam?
Rabu, 28 September 2016
islam di pulau jawa
Pada jaman dahulu masyasarakat Jawa mayoritas memiliki kepercayaan
animisme dan dinamisme. Kepercayaan tersebut mempengaruhi kebudayaan
Jawa yang berakulturasi dengan budaya Hindu dan Budha yang datang dari
India. Islam sendiri kemudian masuk ke tanah Jawa dengan dibawa oleh
para pedagang Gujarat dan Persia serta Arab. sejarah awal masuknya islam di pulau jawa
ini ditandai dengan adanya prasasti berupa batu nisan bernama Fatimah
binti Maimun dan makam dari salah satu Sunan yaitu Maulana Malik
Ibrahim. Perkembangan sejarah Islam di tanah Jawa sendiri melalui
perdagangan, perkawinan, pendidikan, tasawuf, politik dan kesenian.
Peran dari para wali ternyata sangat membantu mengenalkan Islam kepada
masyarakat.
b. Sunan Ampel (Raden Rahmat): Sunan Ampel menyebarkan agama Islam di daerah Surabaya dan juga menjadi perencana pembangunan Masjid Agung Demak yang megah.
c. Sunan Drajad (Syarifudin): Sunan Drajad merupakan putra dari Sunan Ampel. Ia membantu sang ayah untuk menyebarkan agama Islam di sekitar Surabaya.
d. Sunan Bonang (Makdum Ibrahim): Sunan Bonang merupakan saudara kandung dari Sunan Drajad. Ia ikut menyebarkan agama Islam di daerah Tuban, Lasem, hingga Rembang. Sunan Bonang kerap mengeluarkan keputusan yang cukup bijaksana.
e. Sunan Kalijaga (Raden Mas Said/Jaka Said): Sunan yang cukup terkenal, Sunan Kalijaga ini merupakan murid dari Sunan Bonang. Ia memiliki cara menyebarkan Islam di Jawa Tengah dengan beradaptasi dengan lingkungan yang ia datangi.
f. Sunan Giri (Raden Paku): Sunan Giri menyebarkan agama Islam di Jawa hingga Nusa Tenggara serta Maluku. Ia memiliki cara menyebarkan agama Islam dengan permainan.
g. Sunan Kudus (Jafar Sodiq): Sunan Kudus menyebarkan agama Islam di daerah Kudus. Jafar Sidiq yang merupakan nama asli dari Sunan Kudus ini adalah ahli seni bangunan yang membuat Masjid Agung Kudus dan juga menara Kudus.
h. Sunan Muria (Raden Umar Said): Sunan Muria sendiri menyebarkan agama Islam di Gunung Muria yang berhubungan langsung dengan rakyat jelata.
i. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah): Daerah Banten dan Sunda Kelapa serta Cirebon menjadi daerah penyebaran dari Sunan Gunung Jati.
Berdakwah menjadi salah satu cara penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh para sunan yang menjadi kunci utama agama islam masuk ke tanah Jawa. Para wali langsung mendatangi masyarakat dan menyebarkan agama Islam dengan menggabungkan unsur sosial budaya pada dakwah mereka. Mereka mengajarkan agama melalui pesan-pesan moral yang sesuai dengan budaya setempat. Selain itu para wali juga mendirikan pesantren.
Sejarah awal agama islam masuk ke tanah Jawa yang dibawa oleh pedagang Arab memberikan perubahan besar dalam sistem kasta di masyarakat. Rakyat jelata dan miskin derajatnya langsung terangkat dan tidak tertindas oleh peraturan istana. Semua masyarakat memiliki nilai dan derajat yang sama. Hal ini yang membuat agama Islam mendapatkan perhatian lebih di kalangan masyarakat di pulau Jawa.
Wali Songo sendiri menjadi salah satu faktor utama penyebaran agama
Islam di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Wali sendiri pada masa
tersebut memiliki arti sebagai ahli agama yang sudah mencapai tingkatan
tertentu dan dekat dengan Allah. Ditambah lagi para wali ini sangat
dekat dengan istana. Bahkan sudah menjadi penasihat spiritual raja atau
sultan. Oleh sebab itu mereka diberi gelar Sunan. Berikut 9 sunan yang
bertugas menyebarkan agama islam :
a. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim): Sunan Gresik datang ke Jawa
pada abad ke 13 dan menyebarkan agama Islam di wilayah Gresik.b. Sunan Ampel (Raden Rahmat): Sunan Ampel menyebarkan agama Islam di daerah Surabaya dan juga menjadi perencana pembangunan Masjid Agung Demak yang megah.
c. Sunan Drajad (Syarifudin): Sunan Drajad merupakan putra dari Sunan Ampel. Ia membantu sang ayah untuk menyebarkan agama Islam di sekitar Surabaya.
d. Sunan Bonang (Makdum Ibrahim): Sunan Bonang merupakan saudara kandung dari Sunan Drajad. Ia ikut menyebarkan agama Islam di daerah Tuban, Lasem, hingga Rembang. Sunan Bonang kerap mengeluarkan keputusan yang cukup bijaksana.
e. Sunan Kalijaga (Raden Mas Said/Jaka Said): Sunan yang cukup terkenal, Sunan Kalijaga ini merupakan murid dari Sunan Bonang. Ia memiliki cara menyebarkan Islam di Jawa Tengah dengan beradaptasi dengan lingkungan yang ia datangi.
f. Sunan Giri (Raden Paku): Sunan Giri menyebarkan agama Islam di Jawa hingga Nusa Tenggara serta Maluku. Ia memiliki cara menyebarkan agama Islam dengan permainan.
g. Sunan Kudus (Jafar Sodiq): Sunan Kudus menyebarkan agama Islam di daerah Kudus. Jafar Sidiq yang merupakan nama asli dari Sunan Kudus ini adalah ahli seni bangunan yang membuat Masjid Agung Kudus dan juga menara Kudus.
h. Sunan Muria (Raden Umar Said): Sunan Muria sendiri menyebarkan agama Islam di Gunung Muria yang berhubungan langsung dengan rakyat jelata.
i. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah): Daerah Banten dan Sunda Kelapa serta Cirebon menjadi daerah penyebaran dari Sunan Gunung Jati.
Berdakwah menjadi salah satu cara penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh para sunan yang menjadi kunci utama agama islam masuk ke tanah Jawa. Para wali langsung mendatangi masyarakat dan menyebarkan agama Islam dengan menggabungkan unsur sosial budaya pada dakwah mereka. Mereka mengajarkan agama melalui pesan-pesan moral yang sesuai dengan budaya setempat. Selain itu para wali juga mendirikan pesantren.
Sejarah awal agama islam masuk ke tanah Jawa yang dibawa oleh pedagang Arab memberikan perubahan besar dalam sistem kasta di masyarakat. Rakyat jelata dan miskin derajatnya langsung terangkat dan tidak tertindas oleh peraturan istana. Semua masyarakat memiliki nilai dan derajat yang sama. Hal ini yang membuat agama Islam mendapatkan perhatian lebih di kalangan masyarakat di pulau Jawa.
proses masuknya islam di nusantara
Masuknya islam di Indonesia berlangsung secara damai dan
menyesuaikan dengan adat serta istiadat penduduk lokal. Ajaran islam yang tidak
mengenal perbedaan kasta membuat ajaran ini sangat diterima penduduk lokal.
Proses masuknya islam dilakukan melalui cara berikut ini.
1. Perdagangan
Letak Indonesia yang sangat strategis di jalur perdagangan
di masa itu membuat Indonesia banyak disinggahi para pedagang dunia termasuk
pedagang muslim. Banyak dari mereka yang akhirnya tinggal dan membangun
perkampungan muslim, tak jarang mereka juga sering mendatangkan para ulama dari
negeri asal mereka untuk berdakwah. Hal inilah yang diduga memiliki peran
penting dalam penyebaran ajaran Islam di nusantara.
2. Perkawinan
Penduduk lokal beranggapan bahwa para pedagang muslim ini
adalah kalangan yang terpandang, sehingga banyak penguasa pribumi yang
menikahkan anak mereka dengan para pedagang muslim. Sebagai sayarat sang gadis
harus memeluk islam terlebih dahilu, hal inilah yang diduga memperlancar
penyebaran ajaran islam.
3. Pendidikan
Setelah perkampungan islam terbentuk, mereka mulai
mendirikan fasilitas pendidikan berupa pondok pesantren yang dipimpin langsung
oleh guru agama dan para ulama. Para lulusan pesantren akan pulang ke kampung
halaman dan menyebarkan ajaran islam di daerah masing-masing.
4. Kesenian
Wayang merupakan warisan budaya yang masih terjagan hingga
saat ini, dalam penyebaran ajaran islam wayang memiliki perang yang sangat
konkrit. Contohnya sunan kalijaga yang merupakan salah satu tokoh islam
menggunakan pementasan wayang untuk berdakwah.
Teori masuknya agama islam di indonesia
Menurut para sejarawan, pada abad ke-13 Masehi islam sudah
masuk ke nusantara yang dibawa oleh para pedagan muslim. Namun untuk lebih
pastinya para ahli masih terdapat perbedaan pendapat dari para sejarawan. Namun
setidaknya 3 tiga teori tentang masuknya Islam ke Indonesia
1. Teori Gujarat
Teori ini dipelopori oleh ahli sejarah Snouck Hurgronje,
menurutnya agama Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang Gujarat
pada abad ke-13 masehi.
2. Teori Persia
P.A Husein Hidayat mempelopori teori ini, menyatakan bahwa
agama Islam dibawa oleh pedagang Persia (Iran), hal ini berdasarkan kesamaan
antara kebudayaan islam di Indonesia dengan Persia.
3. Teori Mekkah
Teori ini menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia langsung
dibawa para pedagah Mekkah, teori ini berlandaskan sebuah berita dari China
yang menyatakan jika pada abad ke-7 sudah terdapat perkampungan muslim di
pantai barat Sumatera.
Pada masa kedatangan
agama Islam, penyebaran agama Islam dilakukan oleh para pedagang Arab
dibantu oleh para pedagang Persia dan India. Abad ke 7 Masehi merupakan
awal kedatangan agama Islam. Pada masa ini, baru sebagian kecil penduduk
yang bersedia menganutnya karena masih berada dalam kekuasaan raja-raja
Hindu-Budha.
Sejarah masuknya Islam ke Indonesia dan proses penyebarannya berlangsung
dalam waktu yang lama yaitu dari abad ke 7 sampai abad ke 13 Masehi.
Selama masa itu, para pedagang dari Arab, Gujarat, dan Persia makin
intensif menyebarkan Islam di daerah yang mereka kunjung terutama di
daerah pusat perdagangan. Di samping itu, para pedagang Indonesia yang
sudah masuk Islam dan para Mubaligh Indonesia juga ikut berperan dalam
penyebaran Islam di berbagai wilayah Indonesia. Akibatnya, pengaruh
Islam di Indonesia makin bertambah luas di kalangan masyarakat terutama
di daerah pantai.
Pada akhir abad ke 12 Masehi, kekuasaan politik dan ekonomi Kerajaan
Sriwijaya mulai merosot. Seiring dengan kemunduran pengaruh Sriwijaya,
para pedagang Islam beserta para mubalighnya kian giat melakukan peran
politik. Misalnya, saaat mendukung daerah pantai yang ingin melepaskan
diri dari kekuasaan Sriwijaya.
Menjelang berakhirnya abad ke 13 sekitar tahun 1285 berdiri kerajaan
bercorak Islam yang bernama Samudra Pasai. Malaka yang merupakan pusat
perdagangan penting dan juga pusat penyebaran Islam berkembang pula
menjadi kerajaan baru dengan nama Kesultanan Malaka.
Pada awal abad ke 15, kerajaan Majapahit mengalami kemerosotan, bahkan
pada tahun 1478 mengalami keruntuhan. Banyak daerah yang berusaha
melepaskan diri dari kerajaan Majapahit. Pada tahun 1500, Demak berdiri
sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Berkembangnya kerajaan Demak
sebagai kerajaan Islam ini kemudian disusul berdirinya Kesultanan Banten
dan Kesultanan Cirebon. Di luar Jawa juga banyak berkembang kerajaan
yang bercorak Islam seperti Kesultanan Ternate, Kesultanan Gowa, dan
kesultanan Banjar.
Melalui kerajaan-kerajaan bercorak Islam itulah, agama Islam makin
berkembang pesat dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Agama Islam
tidak hanya dianut oleh penduduk di daerah pantai saja, tetapi sudah
menyebar ke daerah-daerah pedalaman.
Sumber: http://kisahasalusul.blogspot.com/2015/10/sejarah-masuknya-islam-ke-indonesia.html
Disalin dari Blog Kisah Asal Usul.
Sumber: http://kisahasalusul.blogspot.com/2015/10/sejarah-masuknya-islam-ke-indonesia.html
Disalin dari Blog Kisah Asal Usul.
Pada masa kedatangan
agama Islam, penyebaran agama Islam dilakukan oleh para pedagang Arab
dibantu oleh para pedagang Persia dan India. Abad ke 7 Masehi merupakan
awal kedatangan agama Islam. Pada masa ini, baru sebagian kecil penduduk
yang bersedia menganutnya karena masih berada dalam kekuasaan raja-raja
Hindu-Budha.
Sejarah masuknya Islam ke Indonesia dan proses penyebarannya berlangsung
dalam waktu yang lama yaitu dari abad ke 7 sampai abad ke 13 Masehi.
Selama masa itu, para pedagang dari Arab, Gujarat, dan Persia makin
intensif menyebarkan Islam di daerah yang mereka kunjung terutama di
daerah pusat perdagangan. Di samping itu, para pedagang Indonesia yang
sudah masuk Islam dan para Mubaligh Indonesia juga ikut berperan dalam
penyebaran Islam di berbagai wilayah Indonesia. Akibatnya, pengaruh
Islam di Indonesia makin bertambah luas di kalangan masyarakat terutama
di daerah pantai.
Pada akhir abad ke 12 Masehi, kekuasaan politik dan ekonomi Kerajaan
Sriwijaya mulai merosot. Seiring dengan kemunduran pengaruh Sriwijaya,
para pedagang Islam beserta para mubalighnya kian giat melakukan peran
politik. Misalnya, saaat mendukung daerah pantai yang ingin melepaskan
diri dari kekuasaan Sriwijaya.
Menjelang berakhirnya abad ke 13 sekitar tahun 1285 berdiri kerajaan
bercorak Islam yang bernama Samudra Pasai. Malaka yang merupakan pusat
perdagangan penting dan juga pusat penyebaran Islam berkembang pula
menjadi kerajaan baru dengan nama Kesultanan Malaka.
Pada awal abad ke 15, kerajaan Majapahit mengalami kemerosotan, bahkan
pada tahun 1478 mengalami keruntuhan. Banyak daerah yang berusaha
melepaskan diri dari kerajaan Majapahit. Pada tahun 1500, Demak berdiri
sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Berkembangnya kerajaan Demak
sebagai kerajaan Islam ini kemudian disusul berdirinya Kesultanan Banten
dan Kesultanan Cirebon. Di luar Jawa juga banyak berkembang kerajaan
yang bercorak Islam seperti Kesultanan Ternate, Kesultanan Gowa, dan
kesultanan Banjar.
Melalui kerajaan-kerajaan bercorak Islam itulah, agama Islam makin
berkembang pesat dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Agama Islam
tidak hanya dianut oleh penduduk di daerah pantai saja, tetapi sudah
menyebar ke daerah-daerah pedalaman.
Sumber: http://kisahasalusul.blogspot.com/2015/10/sejarah-masuknya-islam-ke-indonesia.html
Disalin dari Blog Kisah Asal Usul.
Sumber: http://kisahasalusul.blogspot.com/2015/10/sejarah-masuknya-islam-ke-indonesia.html
Disalin dari Blog Kisah Asal Usul.
kondisi Sosial-Budaya bangsa Arab Pra- Islam
Sebagian besar daerah Arab adalah daerah gersang dan tandus,
kecuali daerah Yaman yang terkenal subur. Sebagai imbasnya, mereka yang hidup
di daerah itu menjalani hidup dengan cara pindah dari suatu tempat ke tempat
lain. Mereka tidak betah tinggal menetap di suatu tempat. Mereka tidak mengenal
hidup cara lain selain pengembaraan itu. Seperti juga di tempat-tempat lain, di
sini pun [Tihama, Hijaz, Najd, dan sepanjang dataran luas yang meliputi
negeri-negeri Arab] dasar hidup pengembaraan itu ialah kabilah. Kabilah-kabilah
yang selalu pindah dan pengembara itu tidak mengenal suatu peraturan atau
tata-cara seperti yang kita kenal. Mereka hanya mengenal kebebasan pribadi,
kebebasan keluarga, dan kebebasan kabilah yang penuh.
Keadaan itu menjadikan loyalitas mereka terhadap kabilah di
atas segalanya. Ciri-ciri ini merupakan fenomena universal yang berlaku di
setiap tempat dan waktu. Bila sesama kabilah mereka loyal karena masih kerabat
sendiri, maka berbeda dengan antar kabilah. Interaksi antar kabilah tidak
menganut konsep kesetaraan; yang kuat di atas dan yang lemah di bawah. Ini
tercermin, misalnya, dari tatanan rumah di Mekah kala itu. Rumah-rumah Quraysh
sebagai suku penguasa dan terhormat paling dekat dengan Ka’bah lalu di belakang
mereka menyusul pula rumah-rumah kabilah yang agak kurang penting kedudukannya
dan diikuti oleh yang lebih rendah lagi, sampai kepada tempat-tempat tinggal
kaum budak dan sebangsa kaum gelandangan. Semua itu bukan berarti mereka tidak
mempunyai kebudayaan sama-sekali.
Fakta di atas menunjukkan bahwa pengertian Jahiliah yang
tersebar luas di antara kita perlu diluruskan agar tidak terulang kembali salah
pengertian. Pengertian yang tepat untuk masa Jahiliah bukanlah masa kebodohan
dan kemunduran, tetapi masa yang tidak mengenal agama tauhid yang menyebabkan
minimnya moralitas.
kebudayaan masyarakat mekah sebelum islam datang
Negeri Yaman adalah tempat tumbuh kebudayaan yang amat
penting yang pernah berkembang di Jazirah Arab sebelum Islam datang. Bangsa
Arab termasuk bangsa yang memilikij rasa seni yang tinggi. Salah satu buktinya
ialah bahwa seni bahasa Arab (syair) merupakan suatul seni yang paling indah
yang amat dihargai dan dimuliakan oleh bangsa tersebut. Mereka amat gemar
berkumpul mengelilingi penyair-penyair untuk mendengarkan syair-syairnya. Ada
bebe-rapa pasar tempat penyair-penyair berkumpul yaitu pasar Ukaz, Majinnah,
dan Zul Majaz. Di; pasar-pasar itulah penyair-penyair memperdengarkan syairnya
yang sudah disiapkan untuk itu.
Seorang penyair mempunyai kedudukan yang amat tinggi
dalam masyarakat Arab. Bila pada suatu suku/kabilah muncul seorang penyair,
maka berdatanganlah utusan dari kabilahJ kabilah lain untuk mengucapkan selamat
kepada kabilah itu. Untuk itu, kabilah tersebul mengadakan
perhelatan-perhelatan dan jamuan besar-besaran dengan menyembelih binatar
ternak. Untuk upacara ini, wanita-wanita cantik dari kabilah tersebut keluar
untuk menari, menyanyi, dan bermain menghibur para tamu. Upacara yang diadakan
adalah untuk menghormati sang penyair. Dengan demikian penyair dianggap mampu
menegakkan martabat suku atau kabilahnya. Salah satu dari pengaruh syair pada
bangsa Arab ialah bahwa syair itu dapat meninggikan derajat orang yang tadinya
hina, atau sebaliknya, dapat menghinakan orang yang tadinya mulia. Bilamana
penyair memuji orang yang tadinya hina, maka dengan mendadak orang hina itu
menjadi mulia, demikian pula sebaliknya. Jika penyair mencelal seseorang yang
tadinya mulia, orang tersebut mendadak menjadi orang yang hina. Sebagai contoh,
ada seorang yang bernama Abdul Uzza ibnu Amir. Dia adalah seorang yang mulanya
hidupnya melarat. Putri-putrinya banyak, akan tetapi tidak ada pemuda-pemuda
yang mau memperistrikan mereka. Kemudian dipuji-puji oleh Al Asya seorang
penyair ulung. Syair yangl berisi pujian itu tersiar ke mana-mana. Dengari
demikian, menjadi masyhurlah Abdul Uzza itu, dan akhirnya kehidupannya menjadi
baik, dan berebutlah pemuda-pemuda meminang putri-putrinya.
Mereka mengadakan perlombaan bersyair dan syair-syair
yang terbagus biasanya mereka gantungkan di dinding Kakbah tidak jauh dari
patung-patung pujaan mereka agar dinikmati banyak orang, Jika syairnya itu
telah digantungkan di dinding Kakbah, sudah pasti suku/kabilah tersebut naik
pula martabat dan kemuliaannya. Dengan demikian, potret seluruh kebudayaan
bangsa Arab telah tertuang dan tergambar di dalam karya syair-syair mereka.
Masa sebelum kedatangan islam
Sebelum Islam datang, bangsa Arab telah
menganut berbagai macam agama, adat istiadat, akhlak dan peraturan-peraturan
hidup. Ketika agama Islam datang, agama baru ini pun membawa pembaruan di
bidang akhlak, hukum, dan peraturan-peraturan tentang hidup. Dengan demikian,
bertemulah agama Islam dengan agama-agama jahiliah atau peraturan-peraturan
Islam dengan peraturan-peraturan bangsa Arab sebelum Islam. Kemudian, kedua
paham dan kepercayaan itu saling berbenturan dan bertarung dalam waktu yang
lama.
Faktor alam merupakan satu hal yang
dapat mempengaruhi kehidupan beragama pada suatu bangsa. Hal itu dapat
dibuktikan oleh penyelidik-penyelidik ilmiah yang menunjukkan bahwa Jazirah
Arab dahulunya subur dan rnakmur. Karena faktor alam itu pula boleh jadi rasa
keagamaan telah timbul pada bangsa Arab semenjak lama. Semangat keagamaan yang
amat kuat pada bangsa Arab itulah yang menjadi dorongan mereka untuk melawan
dan memerangi agama Islam di saat Islam datang. Mereka memerangi agama Islam
karena mereka amat kuat berpegang dengan agama mereka yang lama yaitu
kepercayaan yang telah mendarah daging pada jiwa mereka. Andaikata mereka acuh
tak acuh dengan agama, tentu mereka membiarkan agama Islam berkembang, tetapi
kenyataannya tidak demikian. Agama Islam mereka perangi mati-matian sampai
mereka kalah.
Sampai saat ini pun bangsa Arab, baik
dia seorang ulama atau tidak, terhadap agamanya mereka sangat bersemangat.
Agama itu disiarkan serta dibela dengan sekuat tenaganya. Semangat beragama
mereka umumnya bersifat kulitnya saja. Adapun ibadah dan praktik-praktik
keagamaan jeering ditinggalkan oleh Arab Badui. Watak mereka yang amat
mencintai hidup bebas dari keterikatan menjadi sebab mereka Kingin bebas dari
aturan agama. Mereka sudah lama merasa bosan dan kesal terhadap agamanya karena
dianggap sebagai pengikat kemerdekaannya sehingga selalu menyelewengkan agama
mereka sendiri. Ada di antara mereka yang menyembah pohon-pohon kayu. Ada yang
menyembah bintang-bintang, batu-batuan, binatang-binatang, bahkan menyembah
raja-raja. Cara ini mereka lakukan karena mereka merasa sukar mempercayai Tuhan
yang abstrak, sehingga akhirnya mereka menjadikan sesuatu benda yang
dianggapnya sebagai Tuhan bayangan.
Mengenai kepercayaan keaga-maan, bangsa
Arab merupakan salah satu dari bangsa-bangsa yang telah mendapat petunjuk.
Mereka dahulu telah mengikuti agama Nabi Ibrahim. Karena terputus dengan nabi
sebagai juru penerang, meraka lantas kembali lagi menyembah berhala.
Berhala-berhala mereka terbuat dari batu dan ditegakkan di Kakbah. Dengan
demikian agama Nabi Ibrahim bercampur aduk dengan kepercayaan keberhalaan.
Kemudian keyakinan terhadap Nabi Ibrahim itu telah benar-benar kalah dengan
kepercayaan keberhalaan.
Ibnu Kalbi menyatakan bahwa yang
menye-babkan bangsa Arab menyembah batu atau berhala adalah karena siapa saja
yang meninggalkan kota Mekah selalu membawa sebuah batu. Diambilnya dari
batu-batu yang ada di tanah haram Kakbah. Jika telah berbuat demikian, mereka
telah merasa dirinya terhormat dan cinta terhadap kota Mekah. Selanjutnya, di
mana-mana mereka berhenti atau menetap, diletakkannya batu itu, dan mereka
tawaf (mengelilingi) batu itu, seolah-olah mereka telah mengelilingi Kakbah.
Sesungguhnya mereka masih tetap memuliakan Kakbah dan kota Mekah, serta masih
mengerjakan haji dan umrah, tetapi mereka tetap saja menyembah apa yang mereka
sukai. Berhala-berhala yang ada di negeri mereka dahulunya adalah batu yang
dibawa dari Kakbah ; (Mekah), yang kemudian mereka muliakan. Mereka juga mendirikan
rumah-rumah untuk smenempatkan batu berhalanya, sementara itu Kakbah masih
tetap mempunyai kedudukan lyang tinggi dan mulia. Di antara berhala-berhala itu
ada yang mereka pindahkan ke Kakbah, fyang akhirnya Kakbah dipenuhi dengan
berhala-berhala. Mereka tidak lupa akan kedudukan I Kakbah yang mulia sehingga
mereka tidak mau meletakkan batu-batu berhala itu di tempat yang lain, kecuali
dekat dengan Kakbah. Mereka juga tidak mau naik haji, kecuali hanya ke Mekah.
Nama-nama berhala yang mereka sembah antara
lain Hubal yakni berhala yang terbuat dari batu akik berwarna merah dan
berbentuk manusia. Hubal, dewa mereka yang terbesar I diletakkan di Kakbah,
kemudian Al Lata, berhala yang paling tua, berhala Al Uzza, serta Manah. Mereka
mengakui berhala tersebut sebagai Tuhan mereka dan memujanya karena dianggapnya
hebat. Mereka menyembah berhala-berhala itu sebagai perantara kepada Tuhan.
Jadi pad hakikatnya, bukanlah berhala-berhala itu yang mereka sembah, tetapi
sesuatu yang hebat di balik berhala-berhala itu. Untuk mendekatkan diri kepada
dewa atau Tuhan-Tuhan itu, merek rela berkorban dengan menyajikan binatang
ternak. Bahkan pernah pada suatu ketika mereka mempersembahkan manusia sebagai
korban kepada dewa-dewa dan Tuhan mereka. Kepadal berhala-berhala itu, mereka
mengadukan nasibnya, persoalan, atau problem hidupnya serta meminta pendapat
atau memohon restunya jika akan mengerjakan sesuatu yang penting.
Langganan:
Postingan (Atom)